Selasa, 27 Maret 2012

Gelapku, Ikhlasmu..


Banyak sekali hal yang sudah terjadi dalam hidupku. Ku akui bahwa aku bukanlah pribadi yang sempurna, yang mungkin lebih banyak berbuat salah dari pada kebaikan. Ada banyak sekali hati-hati yang terluka oleh tuturku, oleh tindakanku. Aku sangat menyesal akan segala kebodohan-kebodohan yang telah aku lewati, tapi maaf sekali saat itu karena aku tak tahu bagaimana seharusnya menyelesaikan dengan benar, dengan bijak.  Jika hal itu terulang, maka akan ku pastikan aku hadir dengan tindakan yang berbeda atas pelajaran dimasa lalu. Untuk hati-hati yang terluka, dimana aku pernah menggoreskan tinta hitam, sehingga kalian menyebutku sebagai orang yang buruk, maka datanglah kepadaku, dan katakanlah kalau aku salah! katakanlah bagaimana seharusnya aku! Sungguh aku akan menerimanya dengan lapang dada dan dengan segala kerendahan aku memohon maaf.

Sungguh aku tak ingin di hari peradilan kelak, engkau datang dengan tiba-tiba untuk menuntut dan meminta hak keadilan yang pernah aku rebut. Jika saat itu aku harus masuk surga, maka akan terhalang. Jika saat itu aku masuk neraka, maka akan diperlama. Saat aku harus terbang ke lapisan yang lebih tinggi, ke dalam kehidupan yang saat ini belum kita sentuh, maka aku ingin saat itu kita bersahabat, maka aku ingin saat itu ada senyum diantara kita. Dengan keikhlasan, sayapku akan kokoh mengembang. Putih, tebal, dan mampu terbang secepat kilat.

Dadaku sesak. Sangat sesak. Karena alur kehidupan ini sedikit banyak juga melukainya. Hitam pekat. Segala emosi negatif kreasi musuh kita yang sangat dekat dan nyata menggumpal dan menempel begitu kuat. Aku marah padamu! Aku membencimu! Aku ingin melukaimu! Begitu dia bergumam kencang saat melihatmu. Terkadang aku kalah, bukan, aku sering kalah. Namun sang penjaga yang selalu bersamaku selalu menguatkan, sang penjaga yang selalu bersamaku selalu membukakan mata dan telinga. Dia tak pernah lelah untuk mengingatkan. Sayang bisikannya terlalu lemah, getarannya teredam oleh gumpalan hitam di dalam dada. Terlalu banyak dosa yang melekat yang tak dimintakan tobat kepada Sang Pemilik Kehidupan sehingga sering aku bertindak di jalur yang tak semestinya.

Aku ingin selalu membuatmu bahagia kawan. Namun keterbatasan ini membuatku gagal mewujudkannya. Aku ingin selalu membuatmu bangga kawan. Namun kebodohan ini membuatku tak sanggup untuk menyampaikannya. Aku ingin selalu bisa menolongmu kawan. Namun Tuhan menjadikan tangan ini hanya sepasang, Tuhan menjadikan kaki ini hanya sepasang, Tuhan menciptakan nama ini hanya seorang. Dia menginginkan kita untuk saling memahami dan mengerti. Untuk sebuah keharmonisan, aku ikhlas atas segala kesalahanmu, aku ikhlas atas segala luka yang pernah ada, aku ikhlas menerimamu sahabatku. Dan aku pun berharap yang demikian darimu. Untukmu sahabat seperjuangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar