Minggu, 08 Juli 2012

Istri Empat

Suatu ketika ada seorang pedagang kaya yang mempunyai 4 istri. Dia mencintai istri ke-4 dan menganugerahinya harta dan kesenangan, sebab ia yang tercantik diantara semua istrinya.
Pria ini juga mencintai istrinya yang ke-3. Ia sangat bangga dengan sang istri dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita cantik ini kepada semua temannya. Namun ia juga selalu kawatir kalau istrinya ini lari dengan pria lain.

Begitu juga dengan istri ke-2. Sang pedagang sangat menyukainya karena ia istri yang sabar dan penuh pengertian. Kapanpun pedagang mendapat masalah, ia selalu meminta pertimbangan istri ke-2nya ini. Dia yang selalu menolong dan mendampingi sang suami melewati masa-masa sulit.

Sama halnya dengan istri pertama. Ia adalah pasangan yang sangat setia dan selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarganya. Wanita ini yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan bisnis sang suami. Akan tetapi sang pedagang kurang mencintainya meski istri pertama ini begitu sayang kepadanya.

Suatu hari si pedagang sakit dan menyadari bahwa ia akan segera meninggal. Ia meresapi semua kehidupan indahnya dan berkata dalam hati, “Saat ini aku punya 4 istri. Namun saat aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan.”

Lalu pedagang itu memanggil semua istrinya dan bertanya,

Istri ke-4
“Engkaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan indah. Nah, sekarang aku akan mati. Maukah kamu mendampingi dan menemaniku?.”  Ia terdiam. “Tentu saja tidak!”, jawab istri ke-4 dan pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Jawaban ini sangat menyakitkan. Seakan pisau terhunus dan mengiris-iris hatinya.

Istri ke-3
Pedagang itu sedih lalu bertanya pada istri ke-3. “Aku pun mencintaimu sepenuh hati dan saat ini hidupku akan berakhir. Maukah kau ikut denganku dan menemani akhir hayatku?.” Istrinya menjawab, “Hidup begitu indah disini, aku akan menikah lagi jika kau mati.” Bagai disambar petir disiang bolong, sang pedagang sangat terpukul dengan jawaban tersebut. Badannya terasa demam.

Istri ke-2
Kemudia dia memanggil istri ke-2. “Aku selalu berpaling kepadamu setiap kali aku mendapat masalah dan kau selalu membantuku sepenuh hati. Kini aku butuh sekali bantuanmu. Kalau aku mati, maukah engkau mendampingiku?”. Jawab sang istri, “Maafkan aku kali ini, aku tak bisa menolongmu. Aku hanya bisa menghantarkanmu hingga ke liang kubur jika kamu mati. Nanti akan kubuatkan makam yang indah untukmu.”

Istri ke-1
Pedagang ini merasa putus asa. Dalam kondisi kecewa itu, tiba-tiba terdengar suara, “Aku akan tinggal bersamamu dan menemanimu kemanapun kau pergi. Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu.”

Pria itu menoleh kesamping dan mendapati istri pertamanya disana. Ia tampak begitu kurus. Badannya seperti orang kelaparan. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja aku bisa merawatmu lebih baik saat aku mampu, tak akan kubiarkan engkau kurus seperti ini istriku.”

Sesungguhnya kita memiliki 4 istri dalam hidup kita.

Istri ke-4
Tubuh kita. Seberapa banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah. Semua ini akan hilang dalam batas waktu dan ruang. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadap-Nya.

Istri ke-3
Status sosial dan kekayaan. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya. Sebesar apapun kedudukan kita dalam masyarakat dan sebanyak apapun harta kita, semua itu akan berpindah tangan dalam waktu sekejap katika kita tiada.

Istri ke-2
Kerabat dan teman. Seberapa pun dekatnya hubungan kita dengan mereka, kita tak kan bisa terus bersama. Hanya sampai liang kuburlah mereka menemani kita.

Istri ke-1
Jiwa dan amal. Sebenarnya hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia mendampingi kemana pun kita melangkah. Hanya amal lah yang mampu menolong kita di akhirat kelak.

Jadi selagi mampu perlakukanlah jiwa kita dengan bijak serta jangan pernah malu untuk berbuat amal dan memberikan pertolongan kepada sesama yang membutuhkan. Betapa pun kecilnya bantuan kita, pemberian kita menjadi sangat berarti bagi mereka yang memerlukannya.
Mari kita belajar memperlakukan jiwa dan amal kita dengan bijak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar