Sabtu, 06 Oktober 2012

Ritual Sakral


Rasanya sudah lama sekali aku tidak melakukan ritual seperti ini. Belajar dari seorang Abi yang luar biasa, yang banyak memberikan pelajaran dan tauladan kepadaku secara pribadi.  Disiplin, kharisma, arti sebuah amanah, bagaimana seharusnya menjadi seorang pemimpin, dan banyak hal lainnya. Aku tak pernah lupa kata-katanya pagi itu saat dia sedang mengajar ba’da solat subuh. 

“Abi memahami, kalian aktif dimana-mana, harus tidur malam dan kelelahan hingga kalian terkantuk-kantuk saat mengaji. Buat Abi itu tak menjadi masalah, satu hal yang harus kalian sadari adalah kalian paham alasan kenapa kalian harus duduk bersama disini.” 

Usai salat magrib, ditemani derik gerimis yang terus turun membasahi bumi, aku duduk di sudut ruangan menundukan kepala. Perlahan aku menutup mata dan memulai ritual ini. Aku membukanya dengan ucapan syukur kepada Zat yang agung dan salam kepada suri tauladan terbaik yang tak pernah tergantikan. Ku ucapkan terimakasih kepada raga ini yang bertahun-tahun menemani perjalanan hidupku, ku sapa sahabat-sahabatku yang begitu baik dan telah memberikan banyak bantuan, dan tak lupa  ku sapa juga alam raya ini yang telah mengizinkanku menempatinya, mengambil banyak pelajaran dan manfaat. 

Perlahan aku memasuki dimensi yang tak terbatas. Ditempat itu aku memohon izin kepada Rabb yang Esa untuk mengalirkan nur-Nya sebagai penerang jalan-jalan yang gelap. Aku merasakannya, perlahan ia mengalir merasuk kedalam dada dan menyebar keseluruh tubuh. Terasa sangat hangat dan mendamaikan. Secara bertahap, tempat itu menjadi terang dan semakin terang. 

Rindu sekali, rasanya lama sekali aku tak berjumpa.  “Apa kabar kawan..?”, aku menyapa.  Sebuah ruang kecil yang terletak dibagian dalam diriku yang sangat menentukan siapa aku. Terlihat sedikit berantakan dan berdebu. Sedikit demi sedikit, selapis demi selapis hingga lapisan terdalam yang bisa ku tembus, kurapikan dan kubersihkan semampu aku bisa melakukannya dengan kalimat-kalimat-Mu yang  agung sebatas yang bisa aku pahami. Pekerjaan ini terasa begitu menyenangkan, karena semakin larut, semakin membuat hati merasa tenang dan ringan tanpa beban. 

Seperti biasanya, setelah menyelesaikan pekerjaan itu, aku tak langsung beranjak pergi, namun duduk sejenak diruangan itu. Melihat sekelilingnya yang terlihat menjadi lebih rapih dan lebih bersih dari sebelumnya. 

Dengan nada lirih, aku mencoba menghubungi-Mu dan bercakap. 

Ya Allah.. aku sudah sampai pada hari ini. Dengan segala ketidaksempurnaan ini aku memohon ampun atas segala salah. Aku berusaha menemukan jalan terbaik menuju ketempat-Mu, meski aku tak pernah tau apakah sejauh ini aku berada dijalur yang benar. Kebenaran dan kesalahan adalah milik-Mu, aku hanya bisa memilih jalan sesuai dengan pemahaman yang bisa aku pahami. Jika jalan yang kupilih adalah jalan yang tepat, maka itu adalah kehandak-Mu. Namun jika ternyata aku tersasat, yang aku tau, aku hanya berusaha untuk mendekat. 

Dimanapun Engkau menempatkanku, aku ridho dengan semua itu. Kemuliaan ataukah kehinaan yang aku dapat, Engkau adalah seadil-adilnya hakim. Dan aku hanyalah manusia biasa yang tak banyak mengerti, yang membutuhkan bimbingan-Mu untuk melangkah kedepan. Ya Allah.. aku berserah diri pada-Mu atas segala hal yang aku terima. 

Aku berjalan dari tempat itu dan beranjak pergi dengan menitipkan salam kepada semua yang ada. Perlahan aku menegakan kepala dan membuka mata. Ku tarik nafas secara dalam dan ku hembuskan dengan berucap syukur. 

Bismillahirrohmanirrohim.. Mari melanjutkan perjalanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar