Minggu, 27 Mei 2012

Don't be Sad!


Kenapa tidak boleh bersedih..? bukankah bersedih itu manusiawi..?

don't be sad.. !


















    Bersedih karena materi akan membuat kita mengalami depresi. Robert E. Lane dalam The Loss of Happiness in Market Democracies menyatakan, “… untuk dapat dikatakan depresi, Anda harus memilliki paling tidak empat gejala dibawah ini yang berlangsung hampir setiap hari, selama paling tidak dua minggu :

1.       Selera makan hilang atau kehilangan berat yang sangat berarti (dalam keadaan tidak diet)
2.       Susah tidur (insomnia) dan hipertensi
3.       Gerakan yang melambat (agitasi psikomotor)
4.       Kehilangan minat atau rasa senang terhadap kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan
5.       Kehilangan tenaga, kelelahan
6.       Merasa tidak berharga, menyalahkan diri, atau merasa bersalah yang berlebihan
7.       Menggerutu atau menunjukan hilangnya kemampuan berpikir sehingga sulit mengambil simpulan
8.       Selalu muncul pikiran tentang kematian, bunuh diri, ingin segera mati

            Bersedih merupakan hal yang dilarang Allah melalui firman, Hai hamba-hambaku, tiada kekawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati (QS Al-Zukhruf [43] : 68); dan janganlah apa yang menimpa mereka membuatmu bersedih hati. (QS Al-Hijr [15] : 88)

Daniel Goleman menulis, “Pada sebagian negara kaya kemungkinan orang yang lahir pada 1955 untuk menderita depresi besar-bukan hanya kesdihan hati, tetapi kesepian yang melumpuhkan, kehilangan semangat, kehilangan harga diri, ditambah perasaan tidak berdaya yang luar biasa-pada suatu titik kehidupan lebih dari tiga kali lebih besar dari pada generasi kakek mereka. “Dengan merujuk data yang sama, Martin Selibman, tokoh psikologi positif, berkomentar, “kita sekarang ini berada ditengah-tengah wabah depresi, wabah dengan akibat bunuh diri yang menyebabkan kematian sama banyaknya dengan kematian karena AIDS dan lebih menyebar. Depresi yang parah sepuluh kali lebih banyak terjadi sekarang ini dari pada lima puluh tahun yang lalu. Depresi menyerang perempuan  dua kali lebih sering dari lelaki dan sekarang menyerang sepuluh tahun lebih muda dari pada generasi sebelumnya.

Sikap sedih akan memendamkan bara harapan, mematikan ruh cita-cita, dan membekukan semangat jiwa. Kesedihan tak ubahnya seperti demam yang melumpuhkan kehidupan umat Islam. Kesedihan bahkan seperti barikade yang tidak mudah untuk dilalui dan menghalangi setiap pergerakannya menuju kebahagiaan. Bahkan, kesedihan merupakan situasi yang paling disukai setan karena melalui kesedihan setan menurunkan keyakinan hati manusia akan keadilan dan kasih sayang Allah. Sesungguhnya pembicaraan rahasia (yang dilakukan selain orang beriman) adalah dari setan, untuk menumbuhkan kedukaan terhadap orang-orang yang beriman. (QS Al-Mujadilah [58] : 10).

Seorang muslim diperintahkan untuk mengusir kesedihan, tidak boleh menyerah, serta harus membuang jauh-jauh, menolak, melawan dan mengalahkan kesedihan. Bahkan nabi sendiri pernah memohon untuk dihindarkan dari kesedihan melalui doannya, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kecemasan dan kesedihan”.



Situasi tanpa kesedihan adalah gambaran surga. Kelak ketika di surga, kita akan berkata, Segala puji bagi Allah yang telah mengusir kesedihan dari diri kami. (QS Fathir [35] : 34)

Untuk itu, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk mendatangkan kebahagiaan dan menciptakan kehidupan yang melapangkan dada. Kita harus memohon kehidupan yang baik, penghidupan yang memuaskan, pikiran yang jernih, dan kelapangan dada. Karena itu, seorang ulama pernah menyatakan, “Sesungguhnya didunia ini terdapat surga. Barang siapa yang belum memasukinya, ia belum dapat emasuki surga akhirat.”

Jangan sedih dek..!






















Allahuma inni a’udzbika minal hammi wal zubni, wal ‘ajzi wal kasali, wal bukhli wal jubni, wal dhola’id baini wa gholabatir rijal (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan, kesedihan, kelemahan, kemalasan, kekikiran, berhati pengecut, terbelit utang, dan tertindas oleh yang lain).

-(La Tahzan for Teens)-


Tidak ada komentar:

Posting Komentar