Minggu, 20 Mei 2012

Garam dan Telaga



Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air mukanya ruwet. Tamu itu memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak, hanya mendengarnya dengan seksama. Lalu ia menggambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu didalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba minum ini, dan katakana bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

“Pahit.. pahit sekali rasanya”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak tua itu sedikit tersenyum. Lalu ia mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga didalam hutan didekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan  dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak tua itu lalu kembali menaburkan segenggam garam, namun kali ini dia menaburkannya kedalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah!”, begitu perintah Pak tua. Saat sang tamu itu selesai meminum air itu, Pak tua bertanya lagi, “Bagaimana rasanya?”.

“Segar”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda.
hati yang besar membawa pribadi yang besar


Dengan bijak, Pak tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda tersebut. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam tersebut, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari tempat kita meletakan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak tua itu kembali memberi nasehat. “Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan”. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar