Sabtu, 27 Oktober 2012

Positive




Seperti akar yang berliku-liku..
Namun semua memiliki ujung..

Seperti hidup yang diliputi banyak masalah..
Namun semua memiliki jalan keluar..

Positive Thinking..!

Jumat, 26 Oktober 2012

Aturan Dasar


Pondasi memang selalu dibawah..
Tertimbun tanah dan tak terlihat..
Namun dialah yang membuat kita mampu berdiri..

Jika dia tak lebih kuat..
Mungkin angin sepoi-sepoi pun mampu menumbangkan..

masa kuncupmu = masa mudamu


Selagi masih kuncup..
Selagi masih bisa bergerak cepat..
Selagi masih memiliki banyak energy..

Bangunlah pondasimu lebih kuat dari segala hal..
Hingga badai dan topan pun tak membuatmu bergeming..

Simfoni














Meski terkulun lemah..
Meski tak bertahan lama...
Namun dengan penerimaan yang luar biasa..

Meski bisu dan tak mendapat perhatian..
Meski menjadi bagian yang kecil dari yang besar..
Namun dengan rasa syukur yang tak terbatas..

Peran ini bertingkat-tingkat..
Saat tak ada keberagaman…
Kata sempurna pun hanya sebuah mimpi..
Dunia ini akan mati karena tak ada dinamisasi…

Ukuran kita berbeda..
Jalankan saja sebaik-baiknya..


Anak Autis


“Wah.. wah.. tukang batunya udah balik sekolah nih.” 

Begitu ucapan yang sering aku dengar dari eyang. Bagaimana tidak..? Mainanku dulu waktu kecil itu mbanting-mbantingin batu yang ada di halaman rumah. Kalau sekarang aku pikir, sungguh, benar-benar seperti orang autis. Hehe..

Kebetulan, dulu di depan rumah ada halaman agak luas yang isinya batu-batu krikil, emm.. yang besar ada juga seh. Dihalaman itu juga ada satu pohon jambu monyet dan ada buah dua buah pohon mangga. Sepulang sekolah, dulu saya suka banget main batu di depan rumah, tepatnya di bawah pohon jambu monyet. Selain rindang dan anginnya sepoi-sepoi, khusus dibawah pohon ini, tak ada batu-batuan, namun diselimuti tanah dan sedikit rerumputan.

Tampang anak autis, hehe..

Terinspirasi dari film gundam, entah kenapa, bagiku, tumpukan batu krikil di depan rumah itu adalah kumpulan robot-robot kecil yang tertata rapih. Aku mengumpulkan batu-batu itu, dari yang kecil hingga yang besar. Membuatnya menjadi beberapa kubu, dan menciptakan sedikit cerita monolog yang aku dengar sendiri, untuk memicu sebuah peperangan antar kubu. 

Robot kecil bisa menjadi lebih kuat dan lebih besar ketika mereka berevolusi. Saat tubuhnya mulai retak, dan sang robot dalam peperangan melawan musuh yang kuat untuk melindungi negaranya, maka saat itulah syarat untuk bervolusi terpenuhi. Swiiiing… EVOLUTION…!!

Duar.. duar.. duar.. begitu suaranya terdengar karena tabrakan antar batu yang aku buat. Sungguh.. saat itu dunia benar-benar menjadi miliku. Tak peduli lagi apa yang eyang bilang tentang “tukang batu”. Permainan ini terlalu menarik. Dunia fantasi yang aku ciptakan saat itu benar-benar luar biasa. Hehehe..

Aku masih sangat ingat, aku memiliki robot jagoan yang tak pernah terkalahkan. Aku lupa dulu menamainya apa, tapi aku ingat jika dia adalah sebuah batu berwarna coklat dan bebentuk seperti sepatu, mengecil dibagian depannya. Benar-benar keras.. tak bisa dipecahkan.. meski dulu aku tabrakin sama batu yang paling gede berkali-kali. Kalau batu yang paling gede, aku masing ingat namanya, dia adalah robot zordon. Hihihihi.. special untuk yang ini, karena aku menganggapnya robot yang paling kuat. Aku memberikan sedikit cat warna hijau dibagian atasnya. Mantap..!

Pernah waktu itu ketika aku sedang jadi dalang dalam peperangan robot (batu) ini, waktu aku nabrakin masing-masing dari mereka, loncat dah itu si robot (batu) nabrang dalangnya. Berdarah dah kaki. Biiip.. biiip.. biiip.. merem melek dah kesakitan. Cuma istirahat beberapa hari, abis itu lupa dah, main lagi, perang lagi. Bum.. bum.. bum..!!! Luar biasa sekali serunya..

Emmm.. dari permainan itu aku jadi tau mana batu-batu yang kuat dan keras, mana batu-batu yang mudah pecah hanya dengan ngeliatnya, tanpaharus  dicoba ditabrak-tabrakin dulu. Hihihihi.. Benar-benar autis dah. Terkadang pengin main begitu lagi, tapi umur tidak mendukung. Apa kata dunia..??? hihihihi..

Masa kecil berkembang tanpa batas. Tak ada rasa lelah, tak ada rasa takut untuk gagal. Tapi kenapa semakin dewasa, semakin pintar, tembok-tembok pembatas makin banyak dan makin tebal..?? Keragu-raguan yang pada akhirnya membuat kita sedikitpun tak mengambil langkah  maju.