Selasa, 09 Oktober 2012

Tik Tok


Pengalaman pertama tak pernah terlupa..
Hari pertama mengajar langsung dipecat karena tidak professional menangani anak didik..
Namun hal itu membuatku mengambil banyak pelajaran dan melakukan perbaikan..

Tak hanya sekedar untuk menyambung hidup..
Namun lebih dari itu..
Kerja keras, amanah, dan tanggung jawab..
Mengusung visi untuk menciptakan kader-kader yang lebih hebat..

Hidup membawa cerita yang beraneka ragam..
Terkadang menciptakan rasa takut dan  putus asa..
Namun terkadang membawa senyum bahagia yang mendamaikan..

Sore itu..  Sebelum pamit pulang..
Aku dikasih sepucuk surat oleh adik dari anak didiku..
Anak kecil yang sangat ceria..
Aku membaca dan terharu dibuatnya.. 


sepucuk pesan dari sahabat kecil

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu
Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

-Hymne Guru-

Minggu, 07 Oktober 2012

Little Box

Buku adalah jendela dunia.. Pepatah yang dikenal sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar


  
Aku Bocah Pinter, Sinau Terus Ora Kober Pacaran

AKU BOCAH PINTER, SINAU TERUS ORA KOBER PACARAN
(AKU ANAK PINTAR, BELAJAR TERUS TAK SEMPAT PACARAN)

Stiker lama yang sedang mendapatkan perhatian. Pagi ini sedikit tersenyum-senyum membacanya.
Kalimat sederhana yang bermakna. Mencoba menyibukan diri dengan hal-hal baik, untuk menghindari yang tidak seharusnya, untuk menghindari yang jatuh tak diwaktu yang tepat. 

Rasanya memang bagitu berat untuk masa-masa muda seperti ini. Namun lulus pada ujian ini akan menjadi orang yang langka. Tentunya bukan dengan alasan karena tidak ada, namun yang lebih bijak dari pada itu. Pasti anda tau jawabannya bukan..? Aku yakin itu. 

Bertahan dijalan kebenaran disaat banyak yang tak memperdulikan, percaya pada yang gaib meski ia tak terlihat adalah jalan menuju kebesaran dan kemuliaan.

Sabtu, 06 Oktober 2012

Ritual Sakral


Rasanya sudah lama sekali aku tidak melakukan ritual seperti ini. Belajar dari seorang Abi yang luar biasa, yang banyak memberikan pelajaran dan tauladan kepadaku secara pribadi.  Disiplin, kharisma, arti sebuah amanah, bagaimana seharusnya menjadi seorang pemimpin, dan banyak hal lainnya. Aku tak pernah lupa kata-katanya pagi itu saat dia sedang mengajar ba’da solat subuh. 

“Abi memahami, kalian aktif dimana-mana, harus tidur malam dan kelelahan hingga kalian terkantuk-kantuk saat mengaji. Buat Abi itu tak menjadi masalah, satu hal yang harus kalian sadari adalah kalian paham alasan kenapa kalian harus duduk bersama disini.” 

Usai salat magrib, ditemani derik gerimis yang terus turun membasahi bumi, aku duduk di sudut ruangan menundukan kepala. Perlahan aku menutup mata dan memulai ritual ini. Aku membukanya dengan ucapan syukur kepada Zat yang agung dan salam kepada suri tauladan terbaik yang tak pernah tergantikan. Ku ucapkan terimakasih kepada raga ini yang bertahun-tahun menemani perjalanan hidupku, ku sapa sahabat-sahabatku yang begitu baik dan telah memberikan banyak bantuan, dan tak lupa  ku sapa juga alam raya ini yang telah mengizinkanku menempatinya, mengambil banyak pelajaran dan manfaat. 

Perlahan aku memasuki dimensi yang tak terbatas. Ditempat itu aku memohon izin kepada Rabb yang Esa untuk mengalirkan nur-Nya sebagai penerang jalan-jalan yang gelap. Aku merasakannya, perlahan ia mengalir merasuk kedalam dada dan menyebar keseluruh tubuh. Terasa sangat hangat dan mendamaikan. Secara bertahap, tempat itu menjadi terang dan semakin terang. 

Rindu sekali, rasanya lama sekali aku tak berjumpa.  “Apa kabar kawan..?”, aku menyapa.  Sebuah ruang kecil yang terletak dibagian dalam diriku yang sangat menentukan siapa aku. Terlihat sedikit berantakan dan berdebu. Sedikit demi sedikit, selapis demi selapis hingga lapisan terdalam yang bisa ku tembus, kurapikan dan kubersihkan semampu aku bisa melakukannya dengan kalimat-kalimat-Mu yang  agung sebatas yang bisa aku pahami. Pekerjaan ini terasa begitu menyenangkan, karena semakin larut, semakin membuat hati merasa tenang dan ringan tanpa beban. 

Seperti biasanya, setelah menyelesaikan pekerjaan itu, aku tak langsung beranjak pergi, namun duduk sejenak diruangan itu. Melihat sekelilingnya yang terlihat menjadi lebih rapih dan lebih bersih dari sebelumnya. 

Dengan nada lirih, aku mencoba menghubungi-Mu dan bercakap. 

Ya Allah.. aku sudah sampai pada hari ini. Dengan segala ketidaksempurnaan ini aku memohon ampun atas segala salah. Aku berusaha menemukan jalan terbaik menuju ketempat-Mu, meski aku tak pernah tau apakah sejauh ini aku berada dijalur yang benar. Kebenaran dan kesalahan adalah milik-Mu, aku hanya bisa memilih jalan sesuai dengan pemahaman yang bisa aku pahami. Jika jalan yang kupilih adalah jalan yang tepat, maka itu adalah kehandak-Mu. Namun jika ternyata aku tersasat, yang aku tau, aku hanya berusaha untuk mendekat. 

Dimanapun Engkau menempatkanku, aku ridho dengan semua itu. Kemuliaan ataukah kehinaan yang aku dapat, Engkau adalah seadil-adilnya hakim. Dan aku hanyalah manusia biasa yang tak banyak mengerti, yang membutuhkan bimbingan-Mu untuk melangkah kedepan. Ya Allah.. aku berserah diri pada-Mu atas segala hal yang aku terima. 

Aku berjalan dari tempat itu dan beranjak pergi dengan menitipkan salam kepada semua yang ada. Perlahan aku menegakan kepala dan membuka mata. Ku tarik nafas secara dalam dan ku hembuskan dengan berucap syukur. 

Bismillahirrohmanirrohim.. Mari melanjutkan perjalanan.