Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 September 2014

Jangan Khawatir!


Dan barangsiapa mengerjakan kebijakan sedang dia (dalam keadaan) beriman, maka dia tidak khawatir akan perlakuan zalim (terhadapnya) dan tidak (pula khawatir) akan pengurangan haknya. Q.S. At Taahaa ayat 112

Biarlah mereka mengambil segala yang kita miliki, asalkan iman selalu dihati, rasa syukur ini akan selalu menghiasi hari-hari. Tetap tersenyum kawan, mari kita nikmati hari-hari berat dan penuh cobaan ini! Karena semua ini tidak lain adalah cara Tuhan memberikan kita bekal dan kebahagiaan dalam menjalani masa yang tak berujung nanti.


Sabtu, 29 September 2012

Shalawat atas Nabi

YAA RASULULLAH - Betapa jasamu teramat besar, hingga kami umatmu kini shaum dibulan suci, mengenal puasa, mengenal dhuha, tahajud, Al Fatihah, mengenal sedekah, mengenal dzikir, lailatul qodar, dan semuanya....Yaa Allah, Yaa Robbi... Hati kami sungguh menjerit atas kekurangan kami mengucap

Allahumma shollli alaa muhammad

Shalawat dan salam untukmu Yaa Rosulullah, betapa kau tak izinkan wajahmu dilukis, sedangkan kami ingin melihat wajahmu yang mulia. Engkau sungguh jauh dari para manusia dengan lukisan bergaya, sedangkan sungguh engkau padahal bagaikan cahaya, keharuman dan kemuliaan namamu tiada tara, tetapi engkau selalu bersahaja. Itulah akhlakmu yang tidak semua manusia mengingat, Shalawat dan salam untukmu Yaa Rosulullah,

Diawal dakwahmu tiga tahun pertama, engkau hanya memiliki pengikut 11 orang, dikala fitnah mengarah kepadamu, hujatan menghujanimu, engkau tetap melangkah, di thaif engkau dihujani batu hingga berdarah, engkau tetap bertahan, dan pada perang uhud gigimu terluka, namun tak surut engkau menebar risalah, dan pada perang khandak engkau kelaparan, hingga mengganjal batu diperut karena menahan lapar, engkau tetap tegar dan bersabar. Yaa Rosulullaah berapa shalawat yang bisa kami lantunkan?

Shollu alaa Sayyidina Muhammad..

Shalawat dan salam untukmu Yaa Rosulullah, kami semua atas nama jamaah ini lantunkan, Yaa Robb dengan kerendahan hati, kerendahan diri di hadapan-Mu, jadikanlah shalawat ini bernilai sebanyak kedipan mata dan nafas semua mahlukmu ya Allah, karena rasa cinta kami kepada Rosulullah SAW atas segala kekurangan kami, masukanlah kami yang dhoif ini kedalam umatnya kelak di yaumil akhir yg mendapat syafaat, amin.

Semoga yang membaca Shalawat Allah angkat kesulitannya, Allah berikan keberkahan, Allah berikan kebaikan didunia dan Akhirat, Allah lindungi dari bala, azab di rumah-rumah kita dan dunia Islam yang mengikuti ajarannya.
Sumber : Yusuf Mansur Network

Selasa, 25 September 2012

Belajar Seni Memimpin dari Perang Khandaq


Perang Khandaq dinamakan juga perang Ahzab. Jumhur para ulama sirah menyebutkan bahwa peperangan ini terjadi pada bulan Syawal tahun kelima hijriah. Suasana yang tercipta pada perang Khandaq begitu mencekam lantaran rasa lapar dan dingin yang menusuk kaum muslimin. Ditambah lagi pengepungan yang dilakukan oleh orang – orang kafir membuat posisi kaum muslimin semakin sulit. Begitu sulitnya kondisi saat itu, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Rasul mengikatkan batu yang diganjalkan ke perutnya untuk menghilangkan rasa nyeri dan sakit di lambungnya akibat rasa lapar.

Ketika Rasul
SAW dan para sahabat sedang menggali parit, terdapat bongkahan batu yang sulit dipecahkan. Sehingga Rasul SAW turun langsung untuk memecahkan batu tersebut. Pukulan Rasul SAW memercikkan api dan waktu itu beliau mengucapkan Subhanallah. Kejadian tersebut berulang sampai tiga kali. Kemudian Rasulullah SAW menceritakan kepada sahabat bahwa tatkala muncul percikan api, terpancar gambaran istana Persia disusul istana Romawi dan istana Mauqaqis. Beliau mengatakan sebentar lagi istana Persia akan menjadi milik kita, istana Romawi akan kita kuasai dan istana Mauqaqis akan kita miliki. Ucapan tersebut disambut dengan gembira oleh para sahabat.

Dari sejarah perang
Khandaq tersebut bisa kita lihat betapa begitu luar biasanya sikap kepemimpinan yang ditunjukkan oleh baginda Rasul. Setidaknya ada 2 hal yang dapat dicontoh oleh pemimpin – pemimpin saat ini dari sikap yang ditunjukkan oleh baginda Rasul. Pertama, Rasul sebagai seorang pemimpin mampu menjadi problem solver yang terjadi dan yang kedua, Rasul sebagai seorang pimpinan mampu memompa semangat dan motivasi prajuritnya yang sedang berada dalam kondisi yang sangat sulit.

Mampu menjadi menyelesaikan masalah yang muncul merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Dan hal tersebut telah ditunjukkan secara elegan oleh Rasul dalam perang
Khandaq. Di saat para sahabat mengalami kesulitan dalam memecahkan bongkahan batu, Rasul mampu menyelesaikan permasalahan yang ada. Bahkan tidak hanya menghadirkan solusi berupa teori tapi juga Rasul memberikan solusi kongkret dengan menghancurkan sendiri bongkahan batu yang menjadi masalah tersebut. Rasul bisa saja hanya memberikan perintah kepada sahabat – sahabat yang lain untuk menghancurkan batu, para sahabat tentu tidak akan berkeberatan jika Rasul tidak ikut menggali parit dalam perang tersebut. Tapi Rasul sebagai pemimpin malah melakukan hal sebaliknya, tidak hanya memberikan perintah tapi langsung turun tangan menyelesaikan masalah yang ada dan juga Rasul turut serta menggali tanah guna membuat parit.

Rasul tidak hanya sekadar berteori dan memberikan perintah, tapi langsung turun kelapangan memberikan solusi kongkret. Imam Bukhari meriwayatkan dari Barra’ RA, ia berkata: ”Pada waktu perang Ahzab (khandaq), saya melihat Rasul
SAW menggali parit dan mengusung tanah galian sampai-sampai saya tidak melihat dada beliau yang berbulu lebat karena tebalnya tanah yang melumurinya”.

Yang kedua, sikap kepemimpinan yang ditunjukkan oleh Rasulullah
SAW adalah bagaimana Rasul di tengah – tengah kondisi yang sangat sulit mampu menjadi penyemangat bagi sahabat – sahabatnya. Kondisi yang dialami oleh Rasul dan para sahabat ketika perang Khandaq bukanlah sebuah situasi yang mudah. Berada dalam situasi pengepungan oleh orang – orang kafir serta kekurangan bahan makanan membuat kondisi saat itu menjadi sangat sulit. Namun dalam kondisi sulit tersebut Rasul sebagai seorang pemimpin mampu membangkitkan semangat juang para sahabat. Rasulullah SAW menunjukkan sikap optimis yang luar biasa besarnya sehingga hal itu “menulari” sahabat lainnya dalam bentuk semangat yang menggelora sehingga kemenangan pun dapat diraih. Bahkan untuk perang Khandaq, kemenangan yang diraih tanpa peperangan. Sikap optimis Rasul tertuang dalam pernyataan Beliau yang mengatakan bahwa umat muslim akan mampu mengalahkan tiga bangsa besar yaitu Persia, Romawi dan Mauqaqis.

Begitulah seharusnya sikap yang dimiliki oleh seorang pemimpin. Memberikan semangat kepada orang – orang yang dipimpinnya bahkan dalam kondisi tersulit sekalipun. Seorang pemimpin harus memiliki optimisme berkali lipat dari para jundinya. Karena optimisme dari pemimpin akan menentukan semangat juang dari para jundinya. Sangatlah tidak baik jika seorang pemimpin di tengah masalah yang dihadapi justru tampil di depan para jundinya dan menunjukkan sikap yang lemah dan penuh dengan rasa pesimis. Karena itu akan membuat para jundi dan orang – orang yang dipimpin akan menjadi lemah sehingga mudah dikalahkan.

Wallahu a’lam bis shawab.



Jumat, 21 September 2012

Pengobatan dengan Doa

Ingatlah, aku akan mengajarkan kepadamu ruqyah (pengobatan dengan memakain doa) yang pernah dilakukan malaikat Jibril terhadapku yaitu, hendaklah engkau mengucapkan : 

“Bismillahi arqik wallahu yasyfiq minkulli daa in ya’tiik min syarrinnaffaa tsaa tifil’uqod (Dengan menyebut nama Allah aku mengobatimu dan Allah-lah yang menyembuhkanmu dari semua sakit yang menimpa, dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki).”

Engkau lakukan hal tersebut sebanyak tiga kali dalam ruqyah-mu. 

Hadist Riwayat Imam Hakim

Penjelasan :
Ruqyah ialah berobat melalui bacaan-bacaan yang bersumber dari Al Quran dan hadist-hadist Nabi SAW.
Diantara ruqyah yang pernah dibacakan oleh malaikat Jibril untuk mengobati Nabi SAW ketika sedang sakit ialah seperti berikut : 

“Dengan menyebut nama Allah aku mengobatimu, semoga Allah menyembuhkan  dari semua penyakit yang menimpa dirimu, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang meniup pada buhul-buhul tali, dan juga dari kejahatan orang yang dengki bilamana mulai melancarkan kedengkiannya.”

Cara pengobatan dengan ruqyah ialah dengan membaca kalimat-kalimat tersebut lalu meniupkannya ke tangan, setelah itu tangan diusap-usapkan kepada anggota tubuh yang sakit. Tiupan ini harus disertai dengan sedikit ludah dari orang yang merapalkan ruqyah tersebut.

Minggu, 09 September 2012

Kisah Isra Mi'raj Rosululloh


Ketika akau sedang berbaring di dekat Hathim (Ka’bah), tiba-tiba datang seseorang (malaikat) kepadaku, lalu dia membelah dadaku mulai dari sini hingga ke sini dan ia mengeluarkan hatiku. Kemudian didatangkan kepadaku sebuah piala emas yang dipenuhi dengan iman. Hatiku dicuci dengan air zam-zam, lalu diisi dengan iman, setelah itu dikembalikan ke tempat semula. Kemudian di datangkan kepadaku seekor hewan yang lebih rendah dari pada bighal tetapi lebih tinggi dari pada keledai. Hewan tersebut berbulu putih dan dikenal dengan nama Buroq. Hanya dengan sekali langkah Buroq dapat sampai ke tempat sejauh mata memandang. 

Aku dinaikan ke atas Buroq, lalu Malaikat Jibril berangkat bersamaku hingga sampai ke langit pertama. Malaikat Jibril mengetuk pintu langit, lalu ada yang bertanya, “Siapa Anda?” Malaikat Jibril menjawab”, “Aku Jibril.” Penanya (Malaikat penjaga pintu pertama) bertanya kembali, “Siapa yang bersamamu?” Malaikat Jibril menjawab, “Dia Muhammad.” Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Malaikat Jibril menjawab “Ya.” Penanya berkata, “Selamat datang dengannya, sebaik-baik orang yang ditunggu kedatangannya telah datang.” 

Lalu pintu langit pertama dibuka. Ketika aku masuk, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Adam. Malaikat Jibril berkata, “Ini adalah ayahmu, Adam, ucapkan salam kepadanya.” Maka aku mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku. Selanjutnya ia (Adam) berkata, “Selamat datang Nabi yang saleh, anak yang saleh.” 

Kemudian Malaikat Jibril membawaku naik ke langit kedua. Malaikat Jibril mengetuk pintu langit kedua, lalu malaikat penjaga langit kedua bertanya, “Siapa Anda?” Malaikat Jibril menjawab”, “Aku adalah Jibril.” Kemudian ia bertanya kembali, “Siapa yang bersamamu?” Malaikat Jibril menjawab, “Dia Muhammad.” Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Malaikat Jibril menjawab “Ya.” Lalu penjaga pintu langit itu mengatakan, “Selamat datang dengannya, sebaik-baik orang yang ditunggu kedatangannya telah datang.”

Lalu pintu langit kedua dibukanya. Ketika aku memasuki langik kedua, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa, keduanya adalah anak bibiku. Malaikat Jibril berkata, “Ini adalah Yahya dan Isa, ucapkan salam kepada keduanya.” Lalu aku mengucapkan salam kepada keduanya, dan keduanya menjawab salamku, lalu mengatakan, “Selamat datang Nabi yang saleh, saudara yang saleh.” 

Kemudian Malaikat Jibril membawaku naik ke langit ketiga. Ia mengetuk pintu langit ketiga, maka penjaga pintu langit ketiga bertanya, “Siapa Anda?” Malaikat Jibril menjawab, “Aku adalah Jibril.” Kemudian ia bertanya kembali, “Siapa yang bersamamu?” Malaikat Jibril menjawab, “Dia Muhammad.” Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Malaikat Jibril menjawab “Ya.” Lalu penjaga pintu langit itu mengatakan, “Selamat datang dengannya, sebaik-baik orang yang ditunggu kedatangannya telah datang.”

Lalu penjaga pintu membuka pintu langit yang ketiga. Dan ketika aku masuk, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Yusuf. Malaikat Jibril berkata, “Ini adalah Yusuf, maka ucapkan salam kepadanya.”  Aku mengucapkan salam kepadanya dan ia pun menjawab salam ku, setelah itu ia mengatakan, “Selamat datang dengan Nabi yang saleh, saudara yang saleh.”
Kemudian Malaikat Jibril membawaku naik ke langit keempat. Ia mengetuk pintu langit keempat, maka penjaga pintu langit keempat bertanya, “Siapa Anda?” Malaikat Jibril menjawab, “Aku adalah Jibril.” Kemudian ia bertanya kembali, “Siapa yang bersamamu?” Malaikat Jibril menjawab, “Dia Muhammad.” Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Malaikat Jibril menjawab “Ya.” Lalu penjaga pintu langit itu mengatakan, “Selamat datang dengannya, sebaik-baik orang yang ditunggu kedatangannya telah datang.”

Lalu penjaga pintu membuka pintu langit keempat. Dan ketika aku masuk ke langit keempat, tiba-tiba aku bertemu dengan Nabi Idris. Malaikat Jibril berkata, “Ini adalah Idris, ucapkan salam kepadanya.” Lalu aku mengucapkkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku, selanjutnya dia mengatakan, “Selamat datang dengan saudara yang saleh, Nabi yang saleh.” 

Kemudian Malaikat Jibril membawaku naik ke langit kelima. Ia mengetuk pintu langit kelima, maka penjaga pintu langit kelima bertanya, “Siapa Anda?” Malaikat Jibril menjawab, “Aku adalah Jibril.” Kemudian ia bertanya kembali, “Siapa yang bersamamu?” Malaikat Jibril menjawab, “Dia Muhammad.” Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Malaikat Jibril menjawab “Ya.” Lalu penjaga pintu langit itu mengatakan, “Selamat datang dengannya, sebaik-baik orang yang ditunggu kedatangannya telah datang.”

Ketika aku memasuki langit kelima, tiba-tiba aku bersua dengan Nabi Harun. Malaikat Jibril berkata, “Ini adalah Harun, ucapkan salam kepadanya.” Aku mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku, selanjutnya dia mengatakan, “Selamat datang dengan saudara yang saleh, Nabi yang saleh.” 

Kemudian Malaikat Jibril membawaku naik ke langit keenam. Ia mengetuk pintu langit keenam, maka penjaga pintu langit keenam bertanya, “Siapa Anda?” Malaikat Jibril menjawab, “Aku adalah Jibril.” Kemudian ia bertanya kembali, “Siapa yang bersamamu?” Malaikat Jibril menjawab, “Dia Muhammad.” Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Malaikat Jibril menjawab “Ya.” Lalu penjaga pintu langit itu mengatakan, “Selamat datang dengannya, sebaik-baik orang yang ditunggu kedatangannya telah datang.”

Ketika aku memasuki langit keenam, tiba-tiba aku bersua dengan Nabi Musa. Malaikat Jibril berkata, “Ini adalah Musa, ucapkan salam kepadanya.” Aku mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku, selanjutnya dia mengatakan, “Selamat datang dengan saudara yang saleh, Nabi yang saleh.” 

Ketika aku melewatinya, ia menangis. Lalu ditanyakan kepadanya, “Apakah gerangan hal yang menyebabkan engkau menangis?” Nabi Musa menjawab, “Aku menangis karena ada seorang pemuda yang diutus sesudahku yang umatnya lebih banyak yang masuk surga dari pada umatku.” 

Kemudian Malaikat Jibril membawaku naik ke langit ketujuh. Ia mengetuk pintu langit ketujuh, maka penjaga pintu langit ketujuh bertanya, “Siapa Anda?” Malaikat Jibril menjawab, “Aku adalah Jibril.” Kemudian ia bertanya kembali, “Siapa yang bersamamu?” Malaikat Jibril menjawab, “Dia Muhammad.” Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?” Malaikat Jibril menjawab “Ya.” Lalu penjaga pintu langit itu mengatakan, “Selamat datang dengannya, sebaik-baik orang yang ditunggu kedatangannya telah datang.”

Ketika aku memasuki langit ketujuh, tiba-tiba aku bersua dengan Nabi Ibrahim. Malaikat Jibril berkata, “Ini adalah ayahmu, Ibrahim, ucapkan salam kepadanya.” Aku mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku, selanjutnya dia mengatakan, “Selamat datang dengan anak yang saleh, Nabi yang saleh.”
Selanjutnya Sidratul Muntaha ditampakan kehadapanku, buahnya seperti gentongnya orang-orang Hajar, dan dedaunnannya seperti telinga gajah. Malaikat Jibril berkata, “Inilah Sidratul Muntaha.” Didalamnya terdapat empat buah sungai, dua buah sungai berada didalam, sedangkan yang dua lainnya berada diluar. Aku bertanya, “Apakah ini, hai Jibril?” Malaikat Jibril menjawab, “Dua buah sungai yang berada didalam, keduanya merupakan sungai dalam surga. Dan adapun mengenai dua buah sungai yang berada di bagian luar, keduanya merupakan sungai Nil dan sungai Eufrat.” 

Kemudian Baitul Ma’mur ditampakkan dihadapanku, lalu aku bertanya, “Hai Jibril, apakah ini?” Malaikat Jibril menjawab, “Ini adalah Baitul Ma’mur, setiap harinya dia dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, apabila mereka keluar darinya, maka mereka tidak lagi kembali kepadanya.”
Setelah itu didatangkan kehadapanku sebuah wadah yang berisikan khamar surga, sebuah wadah yang berisikan susu, dan sebuah wadah yang berisikan madu. Aku mengambil wadah yang berisi susu, lalu Jibril Berkata, “Itulah fitrah (agama Islam) yang dijalankan olehmu dan umatmu.” 

Kemudian difardhukan kepadaku lima puluh kali salat untuk setiap harinya. Aku kembali seraya melewati Nabi Musa. Lalu  Nabi Musa bertanya, “Apakah yang diperintahkan kepadamu?” Aku menjawab, “Aku diperintahkan untuk menjalankan salat lima puluh kali setiap hari.” Nabi Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu menjalankan salat lima puluh kali setiap hari. Sesungguhnya aku telah mencoba orang-orang sebelummu dan aku telah memerintahkan kaum Bani Israil dengan perintah yang berat (ternyata mereka tidak mampu mengerjakannya), sekarang kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan mintalah keringanan dari-Nya untuk umatmu.” 

Lalu aku kembali, dan Allah meringankan untukku sebanyak sepuluh kali salat. Lalu aku kembali kepada Nabi Musa, dan ia ternyata mengatakan perkataan yang sama, lalu aku kembali lagi dan Allah meringankan untuku sepuluh kali salat lagi. Aku kembali kepada Nabi Musa, dan ternyata ia mengatakan hal yang serupa, lalu aku kembali lagi kepada-Nya, dan Dia meringankan sepuluh salat lagi untukku. Maka  aku diperintahkan untuk mengerjakan sepuluh kali salat setiap harinya, dan ternyata Nabbi Musa masih mengatakan hal yang serupa. 

Aku kembali lagi kepada Rabbku, akhirnya Dia memerintahkan untuk mengerjakan salat lima waktu, dan aku kembali lagi kepada Nabi Musa, lalu dia bertanya, “Apakah yang diperintahkan kepadamu?” Aku menjawab, “Aku diperintahkan unutk mengerjakan salat lima waktu setiap hari.” Nabi Musa berkata, “Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakan salat lima waktu setiap hari. Sesungguhnya aku telah mencoba orang-orang sebelummu dan aku telah memerintahkan kaum Bani Israil dengan perintah yang berat (ternyata mereka tidak mampu mengerjakannya), maka kembalilah kamu kepada Rabbmu, dan mintalah keringanan dari-Nya untuk umatmu.”  Aku menjawab, “Aku telah banyak meminta kepada Rabbku sehingga aku merasa malu kepada-Nya, sekarang aku rela dan berserah diri saja (kepada-Nya).” Ketika aku melewatinya (Nabi Musa), terdengarlah suara menyeruku, “Aku telah menugaskan kefarduan-Ku, dan Aku telah memberi keringanan kepada hamba-hamba-Ku.” 

Riwayat Bukhari dan Muslim melalui Ibnu Sha’sha’ah